Senin, 13 April 2015

Dongeng Dua Waktu Mentari



Langkah kecil bergulir melaju, menabrak seekor anjing dikala malam
Menghempas sunyi, dan harap esok tannpa mendung
Menerjang malam dalam kebekuan kabut selatan gubuk yang terlupa.
Dalam hari yang akan ku jejaki, adakah sejuta pilu terhapuskan?
Ya, jawab mentari yang menanti esok hari.

Perjalalan yang bertabur sejuta kekonyolan anak manusia, juga ada duka yang di pendam.
Mencari arti kebesaran dalam kesenyapan pelosok bebatuan di selatan tanah marapu
Bahkan riuh ombak yang bertarung menyembunyikan kebahagiaanku, tetapi angin memberitakan lebih cepat dari harapan akan kebahagiaan itu.
Cerita kebahagiaan itu hanyalah angan semu yang ku kecap sendiri saat berada di selatan.
Bergantinya sang mentari kemarin, tetap menghadirkan sejuta harap palsu yang masih ku rasa
Mungkin ini akan menjadi kisah yang mengagumkan beberapa anak manusia, tetapi kusimpan duka ini karena harap bukanlah kenyataan. Dan kenyataan tak seindah angan.
Mungkin rasa yang ku tuangkan dapat diartikan dusta, tapi yakinlah rasa ini adalah karang yang akan terus tegak berdiri melawan terpaan ombak dan angin yang menggerus tepian hatiku.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar