Kesibukan membuat saya melupakan kalau
hari ini adalah hari perempuan internasional sehingga tak ada satupun sahabat,
saudara atau kerabat yang saya ucapkan selamat hari perempuan. Oleh sebab itu,
mengawali tulisan ini saya mohon maaf kepada semuanya atas keterlambatan ucapan
selamat bagi kaum yang bagi saya adalah kaum yang paling tangguh dalam
peradaban manusia. Tak munafik bagi kita kalau kita mengatakan bahwa perempuan
adalah kaum yang paling tangguh atau lebih tangguh dari kaum adam. Betapa tidak
perempuan yang selama ini kita anggap adalah kaum yang paling lemah ternyata
merekalah yang paling tangguh dari kaum adam. Ini dapat kita lihat dalam
kehidupan kita hari lepas hari dimana kaum perempuanlah yang berkerja keras
dari pertama dia membuka mata sampai pada saat dia menutup matanya.
Dalam buku Pancasila Sebagai Dasar Negara yang ditulis oleh Bung Karno, Bung
Karno dengan jelas mengatakan :
“Wanita
yang pertama kali membuat apa yang kita namakan rumah. Belum rumah seperti
sekarang, meskinpun rumah desa pun. Sangat sederhana. Wanita yang ditinggalkan
suaminya ke hutan mengembala, tinggal dengan anaknya. Hujan. Kemudian timbul
pemikiran menyusun daun-daun pisang atau lainya untuk bernaung di bawahnya. Begrip
pertama daripada atap. Jadi wanita adalah makluk pertama yang mendapatkan apa
yang dinamakan civilzation, peradaban.
Wanita
yang membuat periuk, wanita yang menjahit kulit, wanita yang mengayam serat
menjadi tenunan kasar. Wanita yang bercocok tanam, mula-mula.
Apa yang telah disampaikan Bung Karno di
atas, ini mempertandakan bahwa betapa besarnya kontribusi perempuan dalam
sebuah peradaban manusia.
Sejarah
telah mencatat bahwa kaum perempuan telah mengalami kenyatan pahit dari zaman dahulu hingga sekarang ini. Mereka
dianggap sebagai kaum yang tidak berdaya, lemah dan selalu menjadi yang “ke-2″.
Berbagai bentuk diskriminasi dan perlakuan yang tidak adil diterima oleh kaum
perempuan. Kaum perempuan kemudian mencoba berjuang untuk mendapatkan hak mereka
sebagai manusia. Mulai dari hal yang sangat kecil yaitu diskrimnasi di
lingkungan hingga berbagai permasalahan lainya seperti hak politik,
permasalahan ekonomi dan isu lainnya.
Dalam
perjalan kehidupan manusia tidak banyak sejarah yang mencatat tentang perjuangan
perempuan sehingga memang sulit untuk melihat sejarah pergerakan perempuan. Dibawah
ini adalah beberapa gerakan perempuan diberbagai belahan dunia.
Amerika
Gerakan perempuan di Amerika mulai muncul dipertengahan abad ke-19. Emansipasi persamaan hak serta penghapusan diskriminasi terhadap kaum perempuan menjadi tuntutannya. Tuntutan inilah yang kemudian menjadi dasar dari gerakan perempuan yang pada masa kini dikenal dengan feminisme.
Gerakan perempuan di Amerika mulai muncul dipertengahan abad ke-19. Emansipasi persamaan hak serta penghapusan diskriminasi terhadap kaum perempuan menjadi tuntutannya. Tuntutan inilah yang kemudian menjadi dasar dari gerakan perempuan yang pada masa kini dikenal dengan feminisme.
Pada 19 - 20 Juli 1848, sebuah konvensi
diadakan oleh Lucretia Mott dan Elizabeth Cady Stanton. Konvensi ini membahas
tentang hak sosial, sipil dan agama kaum perempuan. Konvensi ini kemudian
menghasilkan satu deklarasi yang dikenal sebagai deklarasi yang dinamakan “The
Declaration of Sentiment”. Dari konvensi ini, usaha mereka kemudian berlanjut
dengan membentuk National Women Suffrage Association (NWSA) yang mengajukan
amandemen pada konstitusi untuk hak suara bagi kaum perempuan. Dalam waktu yang
bersamaan, sebuah wadah lainnya terbentuk dengan nama American Women Suffrage
Association (AWSA). Tujuan mereka sebenarnya sama, yaitu memperjuangkan hak
suara bagi kaum perempuan untuk ikut memilih.
Selain memperjuangkan tentang hak suara,
gerakan perempuan Amerika pada masa itu mulai bergabung dengan
organisasi-organisasi sosial. Walaupun anggotanya masih berasal perempuan kelas
menengah keatas. Perkembangan ini diikuti oleh munculnya berbagai kelompok
perempuan yang mengangkat berbagai isu. Pada tahun 1874, dibentuk The Women’s
Trade Union League dan The Women’s Temperance Union (WTCU). Mereka merupakan
gerakan anti minuman keras. Kemudian pada tahun 1894, berdiri sebuah kelompok,
General Federation of Women’s (GFW) berdiri di Amerika. GFW memperjuangkan
berbagai permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Tidak terbatas hanya pada
permasalahan diskriminasi terhadap perempuan saja, tetapi juga kehidupan remaja
dan masalah perburuhan serta berbagai permasalahan sosial lainnya.
Seiring dengan memasuki abad ke-20,
gerakan perempuan di Amerika mulai menjalin kerja sama dengan gerakan perempuan
lainnya. Kerja sama ini dilakukan untuk saling memperkuat mereka dalam
menyuarakan isu mereka. Salah satu kemenangan kecil kaum perempuan di Amerika
pada awal abad 20 adalah diterimanya amandemen XIX (Sembilan belas). Amandemen
tersebut merupakan amandemen terhadap Undang-undang yang menjamin hak suara
bagi semua orang dewasa tanpa membedakan jenis kelaminnya.
Kondisi kehidupan yang tertekan dapat
menumbuhkan kesadaran kaum perempuan terhadap kemampuannya. Kesadaran akan
kemampuan perempuan tidaklah berbeda dengan laki-laki mulai muncul pada tahun
1940. Hal ini juga tidak bisa dipisahkan dari terjadinya Perang Dunia II.
Selama perang tersebut, lebih dari 6 juta perempuan harus bekerja diberbagai
sektor yang selama ini di kerjakan oleh laki-laki. Momen ini membuat mereka
menyadari bahwa mereka juga mampu bekerja diberbagai sektor yang selama ini di
dominasi oleh laki-laki
Sekitar tahun 1970, isu gerakan
perempuan berkembang mulai maju selangkah. Mereka kemudian mengangkat
permasalahan diskriminasi seksual yang terjadi pada kaum perempuan. Tuntutan
akan persamaan hak dan keadilan sosial bagi perempuan tidak berjalan sendiri,
seiring dengan itu, Martin Luther King, Jr. memperjuangkan penghapusan
diskriminasi rasial di Amerika. Akhinya mereka kemudian melakukan desakan
bersama dan mendapat dukungan yang sangat besar dari masyarakat Amerika. Akibat
desakan tersebut Kongres Amerika mengeluarkan satu rancangan undang-undang,
yaitu Equal Rights Amendement (ERA). Namun, dalam perjalanan ERA gagal menjadi amandemen
karena tidak mencapai 2/3 suara dari 35 negara.
Cile
Baru pada awal tahun 1900 gerakan perempuan di Cile mulai terlihat. Gerakan feminis yang terjadi di Amerika dan Eropa Barat turut mempengaruhi ide dan konsep dari gerakan perempuan di Cile pada masa tersebut. Kemudian dalam perkembangannya terdapat dua model gerakan yang berkembang;
Baru pada awal tahun 1900 gerakan perempuan di Cile mulai terlihat. Gerakan feminis yang terjadi di Amerika dan Eropa Barat turut mempengaruhi ide dan konsep dari gerakan perempuan di Cile pada masa tersebut. Kemudian dalam perkembangannya terdapat dua model gerakan yang berkembang;
Pertama,
gerakan perempuan yang memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan.
Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran dari Amerika dan Eropa serta
bergerak dibidang politik. Gerakan ini pada tahun 1919, mendirikan satu partai
politik yaitu El Partindo Civico Femenino. Pada mulanya, gerakan ini hanya
diikuti oleh perempuan kelas atas. Namun dalam perkembangannya, kira-kira pada
tahun 1920-an, banyak masyarakat menengah yang menjadi anggotanya.
Kedua,
gerakan perempuan proletariat. Rata-rata anggota gerakan ini berasal dari
berbagai kalangan militan, anggota serikat buruh, istri kalangan pekerja ,
buruh tani, atau buruh tambang. Beberapa kelompok diantaranya merupakan bagian
dari partai politik yang berhaluan kiri. Pada pertengahan 1930, mereka
mendirikan Gerakan untuk Emansipasi Perempuan Cile (Movimiento Pro Emancipacion
de la Mujer Chilena). Pada 1945, mereka kemudian mendirikan Partai Feminis
didirikan di Cile. Salah satu tuntutan mereka adalah hak pilih universal dan
usaha tersebut berhasil.
Seiring dengan terjadinya kudeta militer
yang dilakukan oleh Jendral Pinochet pada 1973, gerakan perempuan di Cile juga
mengalami kehancuran. Pemerintah Cile mengeluarkan berbagai kebijakan yang
merugikan kaum perempuan yaitu ideologi tradisional “menjadi ibu” (Motherhood)
digalakkan. Pemerintah menghambat kaum perempuan untuk terjun dalam dunia kerja
dan politik dengan berbagai cara. Mulai dari Undang-undang yang diskriminatif
hingga berbagai cara lainnya.
Gerakan perempuan ternyata dimanfaatkan
dengan baik oleh rejim otoriter. Pemerintah kemudian membentuk berbagai
kelompok perempuan yang tidak lain bertujuan untuk mengontrol kegiatan kaum
perempuan diberbagai sektor. Salah satunya adalah Centros de Madres (CEMAs).
Kemudian untuk perempuan sipil, dibentuk Secretaria Nacional de la Mujer
(Seketariat Nasional untuk Perempuan). Langkah ini benar-benar sangat efektif
untuk rejim otoriter.
Tindakan pengekangan terhadap masyarakat
di Cile dan meningkatnya krisis ekonomi yang dialami oleh Pemerintahan Cile
telah menimbulkan perlawanan. Perjuangna kaum perempuian di Cile jika dilihat
dari isu yang diangkat terbagi atas tiga gerakan. Gerakan pertama adalah yang
menyoroti tentang permasalahan sosial ekonomi Cile. Krisis ekonomi paling
dirasakan oleh kaum miskin kota, terutama kalangan perempuan. Kedua, gerakan
Hak Asasi Manusia (HAM). Gerakan ini dapat dikatakan muncul dikarenakan rejim
militer dibawah pimpinan Pinochet yang melakukan penghilangan secara paksa
terhadap masyarakat Cile yang vokal. Pada tahun 1974 dan 1975, perempaun dari
keluarga yang menjadi korban penghilangan paksa tersebut membentuk Agrupacion
de Familiares de Detenidos-Desperacidos (Asosiasi Keluarga Tahan dan Orang
Hilang)
Mulai awal tahun 80-an hingga saat ini,
gerakan perempuan mulai mengangkat permasalahan diskriminasi dan
ketidaksetaraan gender. Beberapa kelompok perempuan pada masa tersebut ;
Movimento Feminista (gerakan Feminis) dan Frente de Liberacion Feminino (Front
Pembebasan Perempuan)
Filipina
Gerakan perempuan di Filipina baru terlihat pada tahun 70-an. Sebelumnya tidak didapatkan informasi atau data tentang gerakan perempuan pada masa tersebut. Krisis ekonomi yang mulai terasa pada tahun 1979 telah membangkitkan kesadaran kaum perempuan untuk melakukan perlawanan. Berbagai cara dan isu yang mereka angkat dalam melakukan perlawanan.
Gerakan perempuan di Filipina baru terlihat pada tahun 70-an. Sebelumnya tidak didapatkan informasi atau data tentang gerakan perempuan pada masa tersebut. Krisis ekonomi yang mulai terasa pada tahun 1979 telah membangkitkan kesadaran kaum perempuan untuk melakukan perlawanan. Berbagai cara dan isu yang mereka angkat dalam melakukan perlawanan.
Organisasi perempuan Filipina yang
paling terkenal adalah General Assembly Binding Women For Reforms, Integrity,
Leadership, dan Action (GABRIELA). Kelompok ini merupakan koalisi dari 42
organisasi dan 50.000 orang anggota perempuan. Koalisi ini didirikan pada tahun
1984 dan namanya diambil dari pimpinan pemberontakan pada Abad ke-19, Gabriela
Silang. Dasar perlawanan mereka adalah ketertindasan mereka sebagai rakyat
Filipina dan perempuan yang mengalami penindasan dan eksploitasi karena jenis
kelamin.
Tidak jauh berbeda dengan gerakan
perempuan di negara lain, tuntutan mereka dibidang politik adalah mendapatkan
hak dan kesempatan yang sama dalam berpartisipasi dalam dunia politik. Di
bidang kebudayaan, tuntutan kesetaraan dan akses yang sama dalam pendidikan di
semua tingkat dan dalam semua bidang. Tetapi yang paling mendasar adalah
permasalahan di dalam rumah tangga, kesetaraan dalam pengambilan keputusan, hak
milik serta membesarkan anak-anak.
Isu yang diangkat oleh koalisi ini
sangat beragam. Tidak hanya tentang permasalahan gender, tepai juga tentang
militerisasi, krisis ekonomi, globalisasi hingga pangkalan militer Amerika. Ini
kemudian berhubungan dengan masalah kehadiran militer Amerika yang sangat
dominan di Filipina.
Ketika Benigno Aquino tewas terbunuh
pada Agustus 1983, GABRIELA melakukan protes terhadap pemerintah. Aksi massa
terus dilakukan secara marathon di Filipina. Tercatat sekitar 200 aksi dalam
tempo 8 bulan yang di gerakkan oleh GABRIELA. Pada tahun 1985, mereka melakukan
aksi massa lainnya dengan mengangkat permasalahan buruh perempuan.
Kemenangan Corazon Aquino dalam
pemilihan presiden tidak dapat dipisahkan dari GABRIELA. Secara tidak langsung
koalisi ini sangat berjasa dalam menggulingkan kediktatoran Presiden Marcos.
Tidak sampai disitu, mereka dapat menyatukan seluruh kelas masyarakat mulai
dari bawah hingga ke tinggak elit. Merekalah yang melakukan revolusi damai di
Filipina
Australia
Kedatangan bangsa Eropa ke Benua Australia dimulai tahun 1788. Sebahagian dari mereka adalah orang buangan dari Eropa. Kaum perempuan Inggris mulai masuk ke Australia pada tahun 1830. Pada 1883, Inggris memasuki Australian dan menjadikannya koloni. Suku Asli Australia, Abrorigin mengalami penindasan dan dikriminasi terutama kaum wanita.
Kedatangan bangsa Eropa ke Benua Australia dimulai tahun 1788. Sebahagian dari mereka adalah orang buangan dari Eropa. Kaum perempuan Inggris mulai masuk ke Australia pada tahun 1830. Pada 1883, Inggris memasuki Australian dan menjadikannya koloni. Suku Asli Australia, Abrorigin mengalami penindasan dan dikriminasi terutama kaum wanita.
Pada awalnya, kaum pendatang dan
Aborigin terjadi kesalah pahaman yang berkepanjangan. Namun, dalam
perkembangannya kaum perempuan imigran dan perempuan Aborigin berhasil
menyatukan konsep sisterhood. Mereka saling bertukar jasa, perempuan kulit
putih mengajarkan baca-tulis kepada perempuan aborigin. Sedangkan perempuan
Aborogin menjaga dan mengasuh anak-anak mereka.
Tidak jauh berbeda dengan di Amerika,
pada awalnya kaum perempuan menuntut hak perempuan kulit putih dalam pemilihan
umum. Salah satu organisasi perempuan yang pertama di Australia adalah Woman’s
Christian Temperance Union (WCTU). Mereka menuntut amandemen terhadap hak pilih
perempuan. Akhirnya, pada 1902 amandemen tersebuit disahkan oleh pemerintah
Australia. Tidak hanya permasalahan tersebut tetapi ada beberapa hal lainnya
yang berkisal di perubahan sosial dan stabilitas ekonomi.
Pada tahun 1970, isu yang diangkat mulai
berkembang ke permasalahan rasisme. Perempuan Aborigin dan kulit putih bersama
menuntut persoalan dan peraturan yang diskriminatif terhadap kaum Aborigin.
Tidak sampai disitu saja, mereka menuntut persamaan dalam dunia politik. Wajar
saja, pada tahun 1978, parlemen Australia sangatlah maskulin (mayoritas
laki-laki). Perubahan tersebut baru dirasakan pada sekitar 1989, dimana para
perempuan telah menempati berbagai posisi di dunia politik.(BTX)
Bagaimana dengan kontrribusi perjuangan
perempuan dalam pergerakan perjuangan melawan penjajahan di bangsa ini. Sebenarnya
ada banyak sekali pejuang-pejuang perempuan yang ada di bangsa ini namun saya
hanya dapat merilis 13 pejuang perempuan yang dapat rilis dalam tulisan ini :
1.
Cut Nyak Dhien (Lampadang, kerajaan
aceh. 1848 – Sumedang, Jawa Barat, 06 November 1908; dimakamkan di Gunung
Puyuh, Semedang) adalah seorang pahlawan nasional dari Aceh yang berjuang
melawan Belanda pada masa perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia
mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim
Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak
Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda
2.
Tjoet
Nyak Meutia
Tjoet
Nyak Meutia (Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 - Alue Kurieng, Aceh, 24
Oktober 1910) adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia
dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia
berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964. Awalnya
Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku
Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong
berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum
meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau
menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.
3.
Johana Masdani
Johanna
Masdani (lahir 29 November 1910 di Amurang, Sulawesi Utara, meninggal 13 Mei
2006 di Jakarta), adalah seorang pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia. Ia
dilahirkan dengan nama Johanna Tumbuan. Sebagai aktivis pemuda-pemudi menjelang
kemerdekaan, Johanna banyak berjumpa dengan tokoh-tokoh lain, seperti Mohammad
Yamin, Dr. Rusmali, Mr. Assaat, dll. Ia pun bertemu dengan Masdani, juga
seorang tokoh pergerakan yang kemudian melamarnya untuk dijadikan istri.
Masdani telah meninggal mendahuluinya pada Oktober 1967.
4.
Raden Adjeng Kartini
Raden
Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di
Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya
lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang tokoh suku Jawa dan
Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan
perempuan pribumi.
5.
Malahayati
Malahayati,
adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama
aslinya adalah Keumalahayati. Ayah Keumalahayati bernama Laksamana Mahmud Syah.
Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari
Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan
Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530
M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.
Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Malahayati
memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah
tewas) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11
September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu
lawan satu di geladak kapal, dan mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya
ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.Salah
satu Pelabuhan laut di Aceh dinamakan Pelabuhan Malahayati
6.
Maria Walanda Maramis
Maria
Josephine Catherine Maramis (lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 –
meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun), atau
yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan
Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di
Indonesia pada permulaan abad ke-20.
Setiap
tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda
Maramis, sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan
emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan. Menurut Nicholas
Graafland, dalam sebuah penerbitan "Nederlandsche Zendeling
Genootschap" tahun 1981, Maria ditahbiskan sebagai salah satu perempuan
teladan Minahasa yang memiliki "bakat istimewa untuk menangkap mengenai
apapun juga dan untuk memperkembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung
pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki"
7.
Martha Kristina Tiahahu
Martha
Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di
Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis
dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu
mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah
Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu
Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.
Martha
Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang
puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara
kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang
dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan
konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya.
8.
Nyi Ageng Serang
Nyi
Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang,
Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan
Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil
dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan
Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan
ayahnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga
mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau
Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Ia pahlawan
nasional yang hampir terlupakan,mungkin karena namanya tak sepopuler R.A.
Kartini atau Cut Nyak Dhien tapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini.Warga
Kulon Progo mengabadikan monumen beliau di tengah kota Wates berupa patung
beliau sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.
9.
Siti Manggopoh
Siti
Mangopoh (1880 - 1960) adalah seorang pejuang wanita dari Manggopoh, Agam,
Sumatera Barat. Pada tahun 1908, ia melakukan perlawanan terhadap kebijakan
ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting) yang disebut dengan Perang
Belasting. Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau.
Sebab tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.
Pada
tanggal 16 Juni 1908, Belanda sangat kewalahan menghadapi tokoh perempuan
Minangkabau ini, sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di
luar nagari Manggopoh.
Dengan
siasat yang diatur sedemikian rupa oleh Siti, dia dan pasukannya berhasil
menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Sebagai perempuan, Siti Manggopoh
cukup mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Ia memanfaatkan naluri
keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda
tanpa hanyut dibuai rayuan mereka. Ia pernah mengalami konflik batin ketika
akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda. Konflik batin tersebut adalah
antara rasa keibuan yang dalam terhadap anaknya yang erat menyusu di satu pihak
dan panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari kezaliman Belanda di pihak
lain. Namun ia segera keluar dari sana dengan memenangkan panggilan jiwanya
untuk membantu rakyat. Tanggung jawabnya sebagai ibu dilaksanakan kembali
setelah melakukan penyerangan. Bahkan anaknya, Dalima, dia bawa melarikan diri
ke hutan selama 17 hari dan selanjutnya dibawa serta ketika ia ditangkap dan
dipenjara 14 bulan di Lubuk Basung, Agam, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di
Padang. Mungkin karena anaknya masih kecil atau karena alasan lainnya, akhirnya
Siti Manggopoh dibebaskan. Namun suaminya dibuang ke Manado.
10.
Marsinah
Marsinah
(lahir 10 April 1969 – meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun) adalah seorang
aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa
Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah
menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong
Kecamatan Wilangan,, Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.
Dua orang yang terlibat dalam otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Dr. Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat penganiayaan berat.
Dua orang yang terlibat dalam otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Dr. Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat penganiayaan berat.
Marsinah
memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama.
Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai kasus 1713.
Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai kasus 1713.
11.
Yeni Rosa Damayanti
Yeni
Rosa Damayanti adalah seorang aktivis dan pejuang demokrasi dan reformasi
Indonesia.
Namanya sangat populer dipertengahan tahun 90an. Kala itu ia seorang gadis cantik yang sangat berani menentang dan mengkritik pemerintahan Soeharto dengan Orde Barunya yang masih sangat kuat. Aktivis LSM PIJAR ini sempat dipenjara 6 bulan karena keberaniannya menuntut kepada MPR agar Soeharto diseret kedepan Sidang Istimewa MPR pada tahun 1995.
Namanya sangat populer dipertengahan tahun 90an. Kala itu ia seorang gadis cantik yang sangat berani menentang dan mengkritik pemerintahan Soeharto dengan Orde Barunya yang masih sangat kuat. Aktivis LSM PIJAR ini sempat dipenjara 6 bulan karena keberaniannya menuntut kepada MPR agar Soeharto diseret kedepan Sidang Istimewa MPR pada tahun 1995.
Setelah
itu ia pergi ke Belanda meneruskan pendidikannya. Di negeri Belanda iapun tak
henti-hentinya menyuarakan demokrasi dan reformasi bagi Indonesia. Akibat
kegiatannya itu iapun dipersulit untuk pulang ke tanah air. Pemerintah melalui
KBRI di Belanda tidak memberi izin perpanjangan paspornya, sehingga ia tidak
bisa pulang ke Indonesia.
Sesaat setelah kejatuhan Soeharto iapun mendapat izin perpanjangan paspor sehingga iapun segera pulang ke tanah air. Kepulangan Yeni disambut oleh rekan-rekan seperjuangannya sesama aktivis.
Sesaat setelah kejatuhan Soeharto iapun mendapat izin perpanjangan paspor sehingga iapun segera pulang ke tanah air. Kepulangan Yeni disambut oleh rekan-rekan seperjuangannya sesama aktivis.
12.
Utami Roesli
dr.
Utami Roesli SpA, IBCLC, FABM (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 17 September
1945; umur 67 tahun) adalah seorang dokter Indonesia.
Ia
dikenal sebagai seorang aktivis yang gigih memperjuangkan hak-hak bayi untuk
mendapatkan ASI yang baik. Menurut Utami bayi tidak sepantasnya diberi susu
formula yang berasal dari susu sapi.
Sebagai
seorang aktivis dan pejuang ASI, ia dengan beberapa orang tokoh lainnya
mendirikan lembaga Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) dan menjabat sebagai
ketuanya. Disamping itu ia juga berpraktek di Klinik Lakstasi Rumah Sakit St.
Carolus Salemba, Jakarta.
Kegigihan Utami mengampanyekan ASI eksklusif dan mengajarkan "Inisiasi Menyusui Dini" tak terlepas dari pengalaman pahitnya ketika gagal menyusui 2 orang anaknya secara sempurna atau eksklusif yaitu selama 2 tahun.
Kegigihan Utami mengampanyekan ASI eksklusif dan mengajarkan "Inisiasi Menyusui Dini" tak terlepas dari pengalaman pahitnya ketika gagal menyusui 2 orang anaknya secara sempurna atau eksklusif yaitu selama 2 tahun.
13.
Rasuna Said
Hajjah Rangkayo
Rasuna Said (lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 –
meninggal di Jakarta, 2 November 1965 pada umur 55 tahun) adalah salah seorang
pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia.
Seperti Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan
wanita. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Lantas bagaimana dengan sejarah hari
perempuan internasional?. Sejarah perempuan Internasinol bermula pada tahun
1857 dimana kaum perempuan yang berkerja di pabrik tekstil memprotes pabrik
karena mereka berkerja sangat keras namun digaji sangat rendah.
Karena hal inilah muncul berbagai protes
terkait dari para buruh yang selalu dibubarkan oleh polisi. Hal ini memicu para
perempuan untuk membentuk sebuah serikat buruh yang akhirnya dibentuk pada
bulan Maret 1859. Dari sekian kejadian protes yang dilakukan kaum buruh
perempuan ini, kejadian yang paling berarti adalah pada tahun 1911 ketika
terjadi kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist di New York yang
mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.
Perayaan hari perempuan
internasional di negara barat, dimulai pada tahun 1910- 1920 namun
kemudian perlahan menghilang. Hal ini kembali dihidupkan pada tahun 1960-an
ketika feminisme kembali bangkit. Dengan dihidupkannya kembali peringatan hari
perempuan internasional ini, maka PBB ikut meresponnya dengan
mensponsori peringatan hari perempuan internasional pada tahun
1975.
Sekiranya di hari yang berbahagia ini dapat membuka wacana berpikir kita bahwa sesungguhnya
perempuan perempuan dan laki-laki itu sama kedudukannya, hanya kodratlah yang
membeda antara perempuan dan laki-laki. Soekarno perna berkada dalam buku
sarinah bahwa “Laki-laki
dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama
kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya;
jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu
sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno).
Ini menandakan bahwa sesungguhnya laki-laki tak bisa berjalan sendiri tanpa
perempuan begitu sebaliknya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar