Minggu, 12 April 2015

MIMPI MENGAPAI BINTANG



Matahari pagi di ufuk timur, tersenyum manis menyapa indahnya semesta alam ini. Ku termenung sendiri dalam keheningan pagi yang indah itu. Ada sejuta tanya yang berkecamuk dalam jiwa ini, yang tak dapat ku jelaskan dengan akal sehat ku sendiri.
Aku masih termenung melihat sang surya penuh makna, berkecamuk dengan gejolak jiwa ku sendiri yang aku pun tak mengerti. Aku tersentak dalam lamunan yang panjang dan tersadarkan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi itu.

Aku tersadar bahwa ada seorang gadis manis yang selalu mengisi lamunanku, seorang gadis yang penuh senyum dalam setiap hayalku. Gadis yang menyapaku dengan senyumnya di setiap aku membukakan mata pada pagi hari dan tersenyum pada malam hari di saat aku merebahkan diri di peraduan. Dia bagaikan energi terbarukan yang hadir dalam hidupku, yang meberikan kekuatan yang baru untuk ku terus melangkah dan berkarya.
Aku tak tau apa yang mengelumuti perasaanku ini, tapi yang aku rasakan adalah ada kebahagian tersendiri ketika aku bersamanya, ada sesuatu yang membuatku tak dapat ku ukirkan dengan kata-kata karena semuanya tak terukirkan dengan kata yang indah. Tanggal 10 s/d 12 April mungkin adalah hari yang sangat istimewa bagiku di bulan April, aku bisa melihatnya tertawa dan bercanda ria walaupun hanya sebatas memandangnya. Terkadang ketika bersamanya aku tak mampu untuk berkata-kata, lidahku bagaikan ditutup oleh sejuta semut sehingga aku tak dapat berkata-kata. Saat yang indah itu sangatlah terlalu cepat bagiku, waktu seakan berlari menjauh meninggalkan-ku bahkan waktu tak ingin bertelorasi sedikitpun. Tak ada tawar mewar dengannya karena dia (waktu) tak dapat dikendalikan sebab dia berjalan sesuai dengan perintah sang Esa.
Ketika malam telah tiba, aku disapa oleh rembulan malam di malam itu, dia bertanya padaku
“apa yang sedang kau lakukan disini”??,
 “kenapa kau ingin berteman dengan sepimu”??
“tak adakah yang dapat kau lakukan hai lelaki malang”??
Aku coba berdalil dengan sang rembulan malam,,
“aku sedang menatap kebesaran Tuhan, menatap kebesaran Tuhan berteman dengan keramaian Bintang malam, tuk mencoba mengerti kebesaran sang Esa”
Aku coba berbohong pada sang rembulan malam, namun semuanya sia-sia dan sang rembulan berkata;
“berhentilah berbohong hai anak muda, kau tak punya nurani untuk membohongiku. Matamu tak bisa berbohong, kau seolah menutup sesuatu yang terukir didalam bola matamu. Kau membiarkan semuanya ditelan oleh sang waktu dan kau tak mau berjuang demi dia”
Aku mulai berdalil lagi dengan sang rembulan,,
“aku tak menyembunyikan sesuatu, aku hanya memikirkan sesuatu yang mungkin tak mungkin ku miliki”
Aku pun beranjak dan berjalan menujuh pembaringan untuk membaringkan tubuh yang lelah ini dan berharap aku dapat MENGAPAI BINTANG walaupun hanya didalam MIMPI.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar