Sang anak pun memulai kuliahnya di Kampusnya yang baru, dia mulai melakukan interaksi sosial baik di Kampus ataupun di luar Kampus di kota tersebut. Kehidupan pada awal kuliah sang anak sangat mengingat perjuangan orang tuanya di Kampung sehingga sampai dia dapat kuliah. Pada mulanya pun sang anak masih sangat mengigat nasehat orang tuanya agar dapat kuliah dengan baik dan jangan pernah tergiur dengan kehidupan Kota karena mereka bukan orang berada.
Namun, pergaulan di
kota serta persaingan dalam Kampus dan anak kota membuatnya lupa akan
perjuangan orang tuanya di Kampung untuk dapat membiayai kuliah dan biaya
hidupnya. Sang anak pun sudah mulai masuk dalam kehidupan Kota yang sangat
membutuhkan biaya yang besar sehingga kiriman orang tua pun menjadi kurang
karena sudah banyak biaya tambahan yang seharusnya tidak perlu.
Semangat orang tua
memang tidak pernah surut untuk membiayai, semangat untuk membuat anaknya
pintar dan tidak dibodohi orang itu masih tetap bergelora. Namun apa yang
terjadi sang anak malah membodohi orang tuanya dengan ketidak tahuan orang
tuanya mengenai dunia Kampus dan Kota, sang anak pun mulai memunculkan biaya
ini dan itu untuk mengelabui orang tua.
Biaya kuliah dari harga
biaya SKS sampai pada biaya kost sang anak pun menaikan semuanya hanya demi
kepentingan sang anak yang tidak jelas. Orang tua semakin banting tulang demi
sang anak menyesaikan kuliahnya. Keriput di wajahnya tak membuatnya surut dan
tak pernah meluturkan semangatnya walaupun panas matahari mewarnai
perjuangannya.
Tapi sang anak berpesta
fora dan bersenang di Kota tanpa memikir
lagi perjuangan orang tuanya di kampung yang dia sendiri juga tau betapa
perjuangan orang tuanya sangat sulit. sang anak pun telah melupakan semua
nasihat orang tuanya, dia tak peduli semuanya itu karena yang dia tau bagaimana
dia bersaing dengan temannya tanpa harus melihat latar belakangnya sendiri.
Sampai suatu saat sang
anak menyesaikan studynya pun dia pun masih menipu orang tuanya dengan
mengatakan biaya kuliah 10 kali lipat dari biaya yang sebenarnya. Orangnya pun
dengan lugunya berusaha sekuat tenaga demi kebahagia dan harapan agar sang anak
tidak dibodohi oleh orang lain walaupun sebenarnya anak mereka sedang membodohi
mereka tapi mereka tidak pernah mencari tau itu karena kepercayaan mereka pada
sang.
Pada saat Wisuda orang
tua keluarga tersebut mengadakan syukuran atas keberhasilan sang anak namun
setelah sang anak mendapat pekerjaan sang anak tak pernah memberikan perhatian
kepada orang tuanya dan mengacukan. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri saja
bahkan kehidupan suka menipu orang tua pun tetap berjalan terus. Harapan orang
tuanya agar anaknya tidak di tipu orang malah menjadi terbalik dimana
anaknyalah yang memipu mereka karena bekal ilmu yang telah di perjuangkan oleh
orang tuanya.SEKIAN....
SEMOGA DAPAT BEMANFAAT.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar