Jumat, 08 November 2013

SEBUAH REFLEKSI BUAT MAHASISWA

Ada sebuah keluarga di Negeri Antah Brantah, kehidupan keluarga ini memang sangat tergolong sederhana namun keluarga ini sangat memperhatikan pendidikan anaknya walaupun mereka harus lebih berkerja ekstra untuk dapat menyekolahkan anak mereka. Pada suatu ketika anak mereka pun menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan harus melanjutkan keperguruan tinggi di kota X, mereka  berusaha sekuat tenaga sampai anak mereka dapat didaftarkan ke Perguruan Tinggi walaupun mereka harus utang sana-sini bahkan menjual barang berharga mereka. Mereka hanya berharap anak mereka tidak sebodoh mereka dan tidak mudah dibodahi orang lain sehingga anak mereka pun dapat memperoleh kehidupan yang layak.

Sang anak pun memulai kuliahnya di Kampusnya yang baru, dia mulai melakukan interaksi sosial baik di Kampus ataupun di luar Kampus di kota tersebut. Kehidupan pada awal kuliah sang anak sangat mengingat perjuangan orang tuanya di Kampung sehingga sampai dia dapat kuliah. Pada mulanya pun sang anak masih sangat mengigat nasehat orang tuanya agar dapat kuliah dengan baik dan jangan pernah tergiur dengan kehidupan Kota karena mereka bukan orang berada.
Namun, pergaulan di kota serta persaingan dalam Kampus dan anak kota membuatnya lupa akan perjuangan orang tuanya di Kampung untuk dapat membiayai kuliah dan biaya hidupnya. Sang anak pun sudah mulai masuk dalam kehidupan Kota yang sangat membutuhkan biaya yang besar sehingga kiriman orang tua pun menjadi kurang karena sudah banyak biaya tambahan yang seharusnya tidak perlu.
Semangat orang tua memang tidak pernah surut untuk membiayai, semangat untuk membuat anaknya pintar dan tidak dibodohi orang itu masih tetap bergelora. Namun apa yang terjadi sang anak malah membodohi orang tuanya dengan ketidak tahuan orang tuanya mengenai dunia Kampus dan Kota, sang anak pun mulai memunculkan biaya ini dan itu untuk mengelabui orang tua.
Biaya kuliah dari harga biaya SKS sampai pada biaya kost sang anak pun menaikan semuanya hanya demi kepentingan sang anak yang tidak jelas. Orang tua semakin banting tulang demi sang anak menyesaikan kuliahnya. Keriput di wajahnya tak membuatnya surut dan tak pernah meluturkan semangatnya walaupun panas matahari mewarnai perjuangannya.
Tapi sang anak berpesta fora dan  bersenang di Kota tanpa memikir lagi perjuangan orang tuanya di kampung yang dia sendiri juga tau betapa perjuangan orang tuanya sangat sulit. sang anak pun telah melupakan semua nasihat orang tuanya, dia tak peduli semuanya itu karena yang dia tau bagaimana dia bersaing dengan temannya tanpa harus melihat latar belakangnya sendiri.
Sampai suatu saat sang anak menyesaikan studynya pun dia pun masih menipu orang tuanya dengan mengatakan biaya kuliah 10 kali lipat dari biaya yang sebenarnya. Orangnya pun dengan lugunya berusaha sekuat tenaga demi kebahagia dan harapan agar sang anak tidak dibodohi oleh orang lain walaupun sebenarnya anak mereka sedang membodohi mereka tapi mereka tidak pernah mencari tau itu karena kepercayaan mereka pada sang.
Pada saat Wisuda orang tua keluarga tersebut mengadakan syukuran atas keberhasilan sang anak namun setelah sang anak mendapat pekerjaan sang anak tak pernah memberikan perhatian kepada orang tuanya dan mengacukan. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri saja bahkan kehidupan suka menipu orang tua pun tetap berjalan terus. Harapan orang tuanya agar anaknya tidak di tipu orang malah menjadi terbalik dimana anaknyalah yang memipu mereka karena bekal ilmu yang telah di perjuangkan oleh orang tuanya.SEKIAN....
SEMOGA DAPAT BEMANFAAT.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar