Merdeka...!!!
Sebuah perjalanan yang cukup
panjang setelah 68 tahun yang lalu bangsa ini bebas dari penjajahan bangsa
asing dan menyatakan kemerdekaanya pada dunia internasional. Namun apa yang
dimaksud dengan kemerdekaan itu sendiri, apakah kemerdekaan itu sudah
benar-benar terwujud bagi bangsa Indonesia.
Pada tangga 17 agustus 1964 dalam
pidatonya bung karno mengatakan Revolusi
kita bukan sekedar mengusir pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita
menujuh lebih jauh lagi dari pada itu. Revolusi Indonesia menujuh tiga kerangka
yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menujuh kepada sosialisme! Revolusi Indonesia
menujuh kepeda dunia Baru tanpa exploitation
de I’homme par I’homme ‘dan ‘explitation de nation par nation’. Kalimat ini
selalu di kumandangkan oleh Soekarno agar dapat membakar semangat bangsa Indonesia
sehingga benar-benar keluar dari yang namanya eksploitasi, penindasan,
penghisapan manusia oleh manusia yang lain.
Kemerdekaan bangsa Indonesia sekarang ini belum sampai pada tahapan apa yang dimaksudkan oleh Soekarno dalam pidatonya diatas. Soekarno tahu jelas bahwa penjajahan sebenarnya itu tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing saja, namun juga bisa datang dari bangsa itu sendiri. Hal ini Soekarno selalu mengatakan dalam pidatonya yang berbunyi ; “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Kata-kata Soekarno ini sangat terasa sampai sekarang ini, dimana yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mindas yang miskin. Si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya memperkaya diri dengan memperdaya si miskin.
Keterbelakangan terjadi
dimana-mana, perkembangan pun hanya terjadi di pusat kota dimana daerah
terbelakang tetap terbelakang dan kekayaan alam mereka digarap oleh pemodal untuk memperkaya diri namun
melupakan kesejateraan masyarakat kecil
yang sebenarnya harus ada keseimbangan sesuai dengan Amanat Penderitaan Rakyat
(AMPERA).
Hal ini sangat jelas terasa di
daerah-daerah terbelakang yang hanya dapat menunjukkan
kemegahan kotanya
saja sedangkan masyarakat di luar dari kota tersebut
harus tetap merasakan derita berkepanjangan yang tak kunjung-kunjung habis. Kita dapat
melihat di pedesaan dimana anak-anak mereka harus bersekolah tanpa sepatuh dan
bahkan mereka harus naik turun gunung hanya karena sekedar mencari ilmu demi
masa depan mereka. Orang tua mereka pun harus banting tulang untuk mencari air
bersih demi kebutuhan sehari-hari, adapun yang harus menyekolahkan anak ketika
anak-anaknya sudah berumur 8 tahun atau 9 tahun dulu karena jauhnya perjalanan
menujuh sekolah dari rumah mereka.
Naif memang jika kita berbicara
kesejateraan,
namun itu hanya sebagai kekuatan kita dalam berpolitik praktis. Kesejateraan
seharusnya dapat mencakup beberapa hal, kesejateraan tidak hanya berbicara
tentang rasa aman,
namun kesejateraan itu harus dalam mencapai semua lingkup kehidupan kita, orang
yang merdeka adalah mereka yang merasa tentram lahir dan batin.
Setelah 68 tahun yang lalu bangsa Indonesia
memproklamasikan kemerdekaan di mata dunia ternyata kemerdekaan yang
sesungguhnya tidak pernah
kunjung datang juga sampai hari ini, kemerdekaan itu masih mimpi bagi sebagian besar rakyat Indonesia.
Penindasan dan penghisapan terhadap sesama anak bangsa makin meraja lelah di
bangsa ini. Elit-elit politik bangsa ini pun memperbudak dirinya di mata dunia Internasional.
Mereka semuanya tak pernah mempertimbang kebelangsungan bangsa ini, bahkan
banyak kebijakan mereka tidak pro terhadap rakyat kecil. Seakan bangsa ini
kehilangan arah dan tujuannya.
Indonesia yang katanya penganut Idiologi
Pancasila sekarang ini telah di guncang oleh kekuatan arus Globalisasi, bahkan pemerintah sendiri pun selalu bertopeng
demokrasi namun Kapitalismelah yang sedang mengarahkan arah pergerakan mereka.
Negeri ini
seakan-akan adalah Negeri yang penuh dengan ketidak pastian, seakan-akan
menjadi Negara yang abu-abu karena Negari ini tidak lagi berjalan sesuai dengan
ajaran Idiologi yang dia miliki. Kapitalisme telah menguasai negeri ini, kita
sebagai anak Bangsa menjadi penonton di Negeri kita sendiri. Kita menjadi budak
para kapitalis di Negara kita sendiri. Apakah ini yang di kata Negara yang
merdeka???. Atau sudah layakkan kita Negara yang merdeka?????.
Pertanyaan
diatas adalah sebuah Refleksi mendalam bagi kita anak-anak bangsa dimana
kemerdekaan yang kita impikan selama ini belumlah tercapai secara utuh. Carut
marutnya pembangunan di bangsa ini sudah sangat membuktikan bawah kita masih
dalam keadaan belum merdeka.
Bangsa ini
sekarang sedang dijajah secara Idiologis, dimana Kapitalisme telah menguasai Bangsa
ini yang bertopengkan petinggi-tinggi Negara yang serakah.
Seharusnya sebagai anak Bangsa kita harus malu dengan keadaan kita sekarang
ini, kita harus malu dengan pendahulu yang
telah berjuang sampai dengan titik darah penghabisan. Namun apa yang
telah kita lakukan untuk
mengisi kemerdekaan ini????. Kita terlalu terbuai dengan alunan lagu para Kapitalis
yang telah meminah bobo kita selama ini, kita selalu tertidur dalam mengisi
kemerdekaan ini.
Setiap 17 agustus kita selalu
merayakan HUT RI dengan megahnya bahkan begitu megah kita merayakannya. Tapi
pernah sedikit saja kita merenung arti dari kemerdekaan itu, pernah sedikit
berpikir apakah sekarang kita sudah merdeka atau belum??????. Klo kita boleh jujur sebenarnya kita tak
pernah merenungkan arti dari kemerdekaan ini, kita bahkan tak pernah berpikir
tentang apakah kita telah benar-benar merdeka atau tidak. Kita hanya memikirkan
diri kita sendiri sehingga kita pun gampang di aduh oleh bangsa-bangsa lainnya,
kita terlalu individual dalam mengisi kemerdekaan ini.
Sadar atau tidak sadar bangsa ini
sedang berjalan mudur, bangsa ini kembali di jajah oleh bangsa-bangsa asing. Betul memang penjajahan secara
fisik tidak lagi kita rasakan namun penjajahan yang kita alami saat ini adalah
penjajahan modern yang dilakukan oleh Bangsa asing. Kita sedang dijajah secara Idiologis
dan secara Struktural,
Negara kita sangat di kuasai oleh Bangsa asing dimana kekayaan alam kita
semuanya di garap habis oleh Bangsa asing sedangkan kita menjadi penonton di Negeri
kita sendiri. Penderitaan, kelaparan, kemiskinan, busung lapar dll selalu
menghantui Negeri. Negeri ini bagaikan
neraka yang di titipkan oleh para Kapitalis pada bangsa ini, kita seperti
berada di kumbangan penderitaan yang berkepanjangan yang tak pernah kunjung
habisnya.
Kemiskinan masih
menjadi persoalan yang belum dapat diselesaikan dalam bangsa ini, ini terbukti
masih banyak rakyat bangsa ini yang belengu oleh kemiskinan, jurang pemisah
antara si kaya dan si miskin semakin terbuka lebar. Kebodahan pun tidak kalah
bersaingnya dengan kemiskinan di Negeri ini, dua hal ini seolah-olah menjadi
anak kembar yang tak terpisahkan dalam dalam persoalan bansa ini. Pembangunan
saran pra sarana seolah-olah hanya ajang untuk meraut keuntungan dari para elit
yang berselubungkan tender.
Keadilan pun
ternyata masih menjadi mimpi yang berkepanjangan bagi masyarakat miskin, hukum
hanyalah milik mereka yang berduit sedang bagi kaum miskin hanya bias pasra
dengan keadaan yang ada karena begitu mahalnya sebuah keadilan di Negeri ini.
Para Koruptor hanya mendapat hukuman yang ringan, tidak sesuai dengan perbuatan
mereka yang memiskinkan bangsa ini sedangkan orang miskin yang mencuri karena
kelaparan akibat dari ulah para koruptor yang telah merampas hak mereka di
hukum seberat-beratnya.
Jadi sebagai
bangsa yang selalu merayakan kemerdekaan setiap tanggal 17 agustus kita dapat
menjadikan momentum perenungan bagi kita apa arti dari kemerdekaan ini?. Sudah
kita bebas dari kemiskinan?, sudahkah kita bebas dari kebodohan serta
keadilan?????????
Jawabannya ada
pada kita sendiri???? Dan marilah kita merenungkan sejenak semua ini.
Salam perjuangan…….!!!!!!!
mantap......
BalasHapusmerdek dari penjajah, bukan dari bangsa sendiri???