Jumat, 16 Agustus 2013

RENUNGAN REFLEKSI KEMERDEKAAN INDONESIA



Merdeka...!!!
Sebuah perjalanan yang cukup panjang setelah 68 tahun yang lalu bangsa ini bebas dari penjajahan bangsa asing dan menyatakan kemerdekaanya pada dunia internasional. Namun apa yang dimaksud dengan kemerdekaan itu sendiri, apakah kemerdekaan itu sudah benar-benar terwujud bagi bangsa Indonesia.
Pada tangga 17 agustus 1964 dalam pidatonya bung karno mengatakan  Revolusi kita bukan sekedar mengusir pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menujuh lebih jauh lagi dari pada itu. Revolusi Indonesia menujuh tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menujuh kepada sosialisme! Revolusi Indonesia menujuh kepeda dunia Baru tanpa exploitation de I’homme par I’homme ‘dan ‘explitation de nation par nation’. Kalimat ini selalu di kumandangkan oleh Soekarno agar dapat membakar semangat bangsa Indonesia sehingga benar-benar keluar dari yang namanya eksploitasi, penindasan, penghisapan manusia oleh manusia yang lain.

Kemerdekaan bangsa Indonesia sekarang ini belum sampai pada tahapan apa yang dimaksudkan oleh Soekarno dalam pidatonya diatas. Soekarno tahu jelas bahwa penjajahan sebenarnya itu tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing saja, namun juga bisa datang dari bangsa itu sendiri. Hal ini  Soekarno selalu mengatakan dalam pidatonya yang berbunyi ; “Perjuanganku lebih  mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Kata-kata Soekarno ini sangat terasa sampai sekarang ini, dimana yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mindas yang miskin. Si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya memperkaya diri dengan memperdaya si miskin.
Keterbelakangan terjadi dimana-mana, perkembangan pun hanya terjadi di pusat kota dimana daerah terbelakang tetap terbelakang dan kekayaan alam mereka digarap oleh pemodal untuk memperkaya diri namun melupakan kesejateraan masyarakat kecil yang sebenarnya harus ada keseimbangan sesuai dengan Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA).
Hal ini sangat jelas terasa di daerah-daerah terbelakang yang hanya dapat menunjukkan kemegahan kotanya saja sedangkan masyarakat di luar dari kota tersebut harus tetap merasakan derita berkepanjangan yang tak kunjung-kunjung habis. Kita dapat melihat di pedesaan dimana anak-anak mereka harus bersekolah tanpa sepatuh dan bahkan mereka harus naik turun gunung hanya karena sekedar mencari ilmu demi masa depan mereka. Orang tua mereka pun harus banting tulang untuk mencari air bersih demi kebutuhan sehari-hari, adapun yang harus menyekolahkan anak ketika anak-anaknya sudah berumur 8 tahun atau 9 tahun dulu karena jauhnya perjalanan menujuh sekolah dari rumah mereka.
Naif memang jika kita berbicara kesejateraan, namun itu hanya sebagai kekuatan kita dalam berpolitik praktis. Kesejateraan seharusnya dapat mencakup beberapa hal, kesejateraan tidak hanya berbicara tentang rasa aman, namun kesejateraan itu harus dalam mencapai semua lingkup kehidupan kita, orang yang merdeka adalah mereka yang merasa tentram lahir dan batin.
Setelah 68 tahun yang lalu bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan di mata dunia ternyata kemerdekaan yang sesungguhnya tidak pernah kunjung datang juga sampai hari ini, kemerdekaan  itu masih mimpi bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Penindasan dan penghisapan terhadap sesama anak bangsa makin meraja lelah di bangsa ini. Elit-elit politik bangsa ini pun memperbudak dirinya di mata dunia Internasional. Mereka semuanya tak pernah mempertimbang kebelangsungan bangsa ini, bahkan banyak kebijakan mereka tidak pro terhadap rakyat kecil. Seakan bangsa ini kehilangan arah dan tujuannya.
Indonesia yang katanya penganut Idiologi Pancasila sekarang ini telah di guncang oleh kekuatan arus Globalisasi, bahkan pemerintah sendiri pun selalu bertopeng demokrasi namun Kapitalismelah yang sedang mengarahkan arah pergerakan mereka.
Negeri ini seakan-akan adalah Negeri yang penuh dengan ketidak pastian, seakan-akan menjadi Negara yang abu-abu karena Negari ini tidak lagi berjalan sesuai dengan ajaran Idiologi yang dia miliki. Kapitalisme telah menguasai negeri ini, kita sebagai anak Bangsa menjadi penonton di Negeri kita sendiri. Kita menjadi budak para kapitalis di Negara kita sendiri. Apakah ini yang di kata Negara yang merdeka???. Atau sudah layakkan kita Negara yang merdeka?????.
Pertanyaan diatas adalah sebuah Refleksi mendalam bagi kita anak-anak bangsa dimana kemerdekaan yang kita impikan selama ini belumlah tercapai secara utuh. Carut marutnya pembangunan di bangsa ini sudah sangat membuktikan bawah kita masih dalam keadaan belum merdeka.
Bangsa ini sekarang sedang dijajah secara Idiologis, dimana Kapitalisme telah menguasai Bangsa ini yang bertopengkan petinggi-tinggi Negara yang serakah. Seharusnya sebagai anak Bangsa kita harus malu dengan keadaan kita sekarang ini, kita harus malu dengan pendahulu yang  telah berjuang sampai dengan titik darah penghabisan. Namun apa yang telah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini????. Kita terlalu terbuai dengan alunan lagu para Kapitalis yang telah meminah bobo kita selama ini, kita selalu tertidur dalam mengisi kemerdekaan ini.
Setiap 17 agustus kita selalu merayakan HUT RI dengan megahnya bahkan begitu megah kita merayakannya. Tapi pernah sedikit saja kita merenung arti dari kemerdekaan itu, pernah sedikit berpikir apakah sekarang kita sudah merdeka atau belum??????.  Klo kita boleh jujur sebenarnya kita tak pernah merenungkan arti dari kemerdekaan ini, kita bahkan tak pernah berpikir tentang apakah kita telah benar-benar merdeka atau tidak. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri sehingga kita pun gampang di aduh oleh bangsa-bangsa lainnya, kita terlalu individual dalam mengisi kemerdekaan ini.
Sadar atau tidak sadar bangsa ini sedang berjalan mudur, bangsa ini kembali di jajah oleh bangsa-bangsa asing. Betul memang penjajahan secara fisik tidak lagi kita rasakan namun penjajahan yang kita alami saat ini adalah penjajahan modern yang dilakukan oleh Bangsa asing. Kita sedang dijajah secara Idiologis dan secara Struktural, Negara kita sangat di kuasai oleh Bangsa asing dimana kekayaan alam kita semuanya di garap habis oleh Bangsa asing sedangkan kita menjadi penonton di Negeri kita sendiri. Penderitaan, kelaparan, kemiskinan, busung lapar dll selalu menghantui Negeri. Negeri ini bagaikan neraka yang di titipkan oleh para Kapitalis pada bangsa ini, kita seperti berada di kumbangan penderitaan yang berkepanjangan yang tak pernah kunjung habisnya.
Kemiskinan masih menjadi persoalan yang belum dapat diselesaikan dalam bangsa ini, ini terbukti masih banyak rakyat bangsa ini yang belengu oleh kemiskinan, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin terbuka lebar. Kebodahan pun tidak kalah bersaingnya dengan kemiskinan di Negeri ini, dua hal ini seolah-olah menjadi anak kembar yang tak terpisahkan dalam dalam persoalan bansa ini. Pembangunan saran pra sarana seolah-olah hanya ajang untuk meraut keuntungan dari para elit yang berselubungkan tender.
Keadilan pun ternyata masih menjadi mimpi yang berkepanjangan bagi masyarakat miskin, hukum hanyalah milik mereka yang berduit sedang bagi kaum miskin hanya bias pasra dengan keadaan yang ada karena begitu mahalnya sebuah keadilan di Negeri ini. Para Koruptor hanya mendapat hukuman yang ringan, tidak sesuai dengan perbuatan mereka yang memiskinkan bangsa ini sedangkan orang miskin yang mencuri karena kelaparan akibat dari ulah para koruptor yang telah merampas hak mereka di hukum seberat-beratnya.
Jadi sebagai bangsa yang selalu merayakan kemerdekaan setiap tanggal 17 agustus kita dapat menjadikan momentum perenungan bagi kita apa arti dari kemerdekaan ini?. Sudah kita bebas dari kemiskinan?, sudahkah kita bebas dari kebodohan serta keadilan?????????
Jawabannya ada pada kita sendiri???? Dan marilah kita merenungkan sejenak semua ini.
Salam perjuangan…….!!!!!!!

1 komentar :